Archive for the 'Kebijaksanaan Timur' Category
May 23rd, 2009 by admin
Judul Buku:
Bhaja Govindam,
Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara
***
Menyusul ulasan tentang Atma Boddha yang mendapat sambutan antusias dari para penyelam rohani, hadir di hadapan anda ulasan tentang karya Mahaguru Shankara yang unik ini, Bhaja Govindam.
Berbeda dengan Atma Boddha yang diperuntukkan bagi para “murid umum”, karya ini dimaksudkan untuk para murid yang sudah ber-murad, berkeinginan tunggal, yaitu “menginginkan keinginan Sang Kebenaran”. Dengan kata lain, karya ini bagi mereka yang bertekad untuk “melenyapkan segala keinginan dalam Kehendak Ilahi”.
Selami karya ini dan menyanyilah bersama Sang Mahaguru Shankara, maka hidup ini akan benar-benar menjadi perayaan, dan Anda akan menjadi selebriti sejati.
… Hubungan antara guru dan siswa, murshid dan murid, master dan disciple, mungkin merupakan hubungan yang paling mesra. Tidak heran bila hubungan antara Jalaluddin Rumi dan Shams, hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena, hubungan antara Krishna dan Radha, sering disalahpahami, disalahartikan, disalahtafsirkan.
Mesranya hubungan antara murshid dan murid tidak bisa tidak melahirkan energi yang mencerahkan. Kesiapan diri seorang murid dan kedekatannya dengan sang murshid menyebabkan terjadinya “pencerahan”. Dan, pencerahan seperti itu tidak semata-mata mencerahkan si murid; sang murshid pun sedikit lebih tercerahkan olehnya. Bila matahari pencerahan terbit, baik murid maupun murshid memperoleh sinarnya. Enlightenment, my dear ones, is an ongoing process. Pencerahan terjadi terus-menerus. Pencerahan tidak pernah berhenti.
Bhaja Govindam lahir dari hubungan mesra seperti itu. Lahir dari hubungan Guru Shankaracharya dengan para muridnya. Sebelum ini kita pernah mengulas karya lain dari Sang Mahaguru, dalam buku yang sudah terbit lebih dulu, yaitu Atma Bodha. Saya merasa perlu mengulas satu lagi karya Shankaracharya, karena karyanya yang satu ini lain dari yang lain. [...]
… Bhaja Govindam berbeda. Buku ini tidak ditulis. Sang Murshid tidak menulisnya. Beliau menyanyikannya bersama para murid. Sungguh luar biasa. Saya tidak pernah menemukan teks lain seperti ini. Ya, Bhaja Govindam adalah “nyanyian bersama” Sang Guru bersama para muridnya. Mahaguru Shankara sedang berduet dengan para siswanya.
Bait pertama lagu ini dinyanyikan oleh Shankara. Beberapa bait berikutnya oleh para murid, lalu diakhiri oleh Sang Guru lagi. Nyanyian Shankara yang satu ini diperuntukkan bagi para murid, yaitu mereka yang ber-”murad“, berkeinginan tunggal. Dan, keinginan tunggal seorang murid adalah menginginkan “Keinginan Keberadaan”: Melenyapkan segala keinginan dalam Kehendak Ilahi.
Bhaja Govindam merupakan “injunctions” Sang Guru bagi para murid [...]
***
Tulisan di atas adalah , kutipan-kutipan dari sampul buku berjudul: “ Bhaja Govindam, Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara“, ditulis oleh Anand Krishna. Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama.
May 23rd, 2009 by admin
Judul Buku:
Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas
***
. . . Berhentilah “mengalir” ke luar… Take a U-Turn, berbeloklah kembali ke dalam diri. Apa yang engkau cari itu, tidak ada di luar diri.
Ketika George Horrison dari kelompok The Beatles menyadari hal itu, dia melepas segala ketergantungan pada hal-hal di luar diri. Dan menyaatakan dengan gambling, “All you need is Love.Hari Bol!“ Apa yang engkau butuhkan hanyalah kasih. Ucapkan Nama Dia Yang Adalah Wujud Cinta Kasih!
“Sekarang”, kata Narada…”Sekarang, temukan Pusat Kasih itu di dalam dirimu!” Narada Bhakti Sutra tidak dimaksudkan bagi mereka yang masih asyik mencari cinta di luar diri. Ia dimaksudkan bagi mereka yang ingin mencari Pusat Kasih, Sentra Cinta di dalam dirinya [...]
. . . Termabukkan oleh anggur kasih yang berasal dari dalam diri – demikian keadaan seorang Kekasih, seorang pecinta Allah.
Bila anda termabukkan oleh sesuatu di luar diri, anda adalah seorang pemabuk. Bila anda termabukkan oleh sesuatu di dalam diri, anda adalah seorang pecinta.
Sayangnya para pemabuk tidak bisa memahami keadaan para pecinta, kemudian malah menghujat mereka, “Eh, kamu belum apa-apa. Kamu belum cukup mabuk. Mana gelasmu? Mana botolmu? Mana anggurmu? Siapa Tuhanmu? Nggak mungkin, ah… Kau ateis. Kau tidak beragama.
Kau belum apa-apa. Siapa yang ingin kau bohongi? Sembahyang saja tidak teratur. Kapan ke tempat ibadah? Saya tidak pernah melihatmu.”
Para pecinta Allah termabukkan oleh cinta yang berasal dari dalam diri mereka sendiri. Para kekasih Tuhan termabukkan oleh Tuhan yang “berada” di dalam diri mereka sendiri.
Kita masih membutuhkan hal-hal luaran. Masih membutuhkan sarana-sarana dari luar diri. Masih membutuhkan …dan…
Satu hal penting untuk direnungkan: Termabukkan oleh hal-hal luaran saja, manusia menjadi pemberani. Apalagi termabukkan oleh sesuatu di dalam diri! [...]
Dalam dunia wayang, Narada dikenal sebagai Dewa. Brahma-Rishi ini sebenarnya adalah tokoh historis. Sepeninggalan ibunya secara tiba-tiba, pemuda ini mulai mengembara, untuk menguasai segala cabang pengetahuan. Dengan penguasaan pengetahuan yang ada pada zamannya, hati pemuda ini sama sekali tak terpuaskan, sampai akhirnya dia bertemu dengan Sanatkumara, seorang pujangga dari kalpa yang sudah berlalu. Olehnya Narada diingatkan bahwa hanya ada satu yang akan memuaskan hatinya… yaitu, “Yang Hanya Satu Ada-Nya…Kasih, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Berbatas.”
Karena itu, mulailah Narada menyelami Cinta, dan Bhakti Sutra adalah mahakarya hasil penyelamannya.
Dengar komentar Anand Krishna, kini karya klasik ini terbuka bagi kita. Bagaikan cermin, kita bisa menatapnya untuk menemukan diri, dan Dia Yang Bersemayam Di Dalam Diri: Narayana.
***
Tulisan di atas adalah kutipan-kutipan dari buku yang brjudul: ” Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas ”, ditulis oleh Anand Krishna. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
May 23rd, 2009 by admin
Judul Buku:
ATMA BODHA, Menggapai Kebenaran Sejati ,Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal
***
Sejak kelahirannya sudah tampak tanda-tanda istimewa. Konon, ia mulai belajar di Gurukula ketika berumur 3 tahun, dan hanya membutuhkan empat tahun untuk menguasai semua cabang ilmu yang diajarkan di sana. Dialah Shankara, yang pada usia 7 tahun sudah menjadi seorang pandit, seorang sarjana.
Perjalanan hidupnya tidak hanya mengantar dia sampai di situ. Ia bahkan menjadi seorang meditator, yang karena kharisma dan wawasannya mendapat julukan Jagadguru Shankaraachaarya atau Guru Sejagad yang mengajar dari pengalaman. Karena kedalamannya, bahkan dia disebut sebagai Sadguru, Guru Sejati, yang akan melakukan reformasi adat, peraturan, hukum dan penghayatan agama di India.
Atma Bodha adalah buah karya peninggalannya yang terus memberi inspirasi kepada orang yang berani menyelami diri, orang-orang yang berani mempertanyakan dogma-dogma, orang-orang yang siap untuk dikikis kepicikannya.
Untuk yang belum siap, berhati-hatilah dan diskusikanlah dengan guru-guru Anda, karena Anda akan berubah bila merenungkan dengan serius ayat-ayat dalam buku ini!
… Seribu tahun berlalu sudah, sejak Bhaaratvarsha, India dikunjungi oleh seorang Mahaatmaa. Kunjungan terakhir oleh Siddhartha, Sang Buddha, telah mengubah pola hidup dan cara berpikir wangsa Bhaarat.
Kedatanga Shankara seribu tahun kemudian memang sudah ditunggu-tunggu. Anak cucu Bhaarat selalu membuka diri terhadap perubahan. Peraturan mereka, adat mereka, bahkan apa yang disebut “hukum agama” pun tidak baku. Semua terbuka bagi pembaharuan, bagi penyesuaian, bahkan perombakan total sesuai dengan tuntutan jaman.
Saat Shankara lahir, ajaran Sang Buddha sudah mulai banyak diselewengkan. Banyak pula yang meninggalkan rumah tangga dan melarikan diri dari tanggung jawab, dengan menggunakan dalil agama: “Bukankah Sang Buddha sendiri melakukan hal itu? Di pun meninggalkan istana, istri dan anak yang baru lahir. Salahkah kami bila mengikuti jejaknya?”
Lain Siddharta, lain mereka. Shiddarta mencari Kebenaran. Mereka mencari pembenara. Kelahiran Shankara justru untuk meruntuhkan pembenaran-pembenaran dan kemunafikan seperti itu, tapi oleh banyak pihak yang tidak memahaminya. Dia dicap sebagai musuh Buddha [...]
Tulisan di atas adalah kutipan-kutipan dari buku: “Atma Bodha, Menggapai Kebenaran Sejati ,Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal “, ditulis oleh Anand Krishna. Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama.