December 15th, 2010 by admin
Judul Buku:
Puncak Evolusi Kemanusiaan
Ditulis oleh Anand Krishna dan Dr. Bambang Setiawan
“Evolusi Spiritual adalah evolusi dari ketidaksadaran menuju kesadaran. Inilah evolusi yang sedang kita jalani saat ini.”
***
Roda evolusi sains dan teknologi terus berputar dan berhasil mengantarkan kita pada era baru saat ini. Namun ketika perkembangan kecerdasan otak dan kemampuan intelektualitas yang mendasari evolusi itu tidak diimbangi dengan perkembangan spiritualitas dalam diri kita, kerusakanlah yang kita dapati, antara lain pencemaran lingkungan, konflik, perang, serta segala sesuatu yang tidak selaras dan tidak harmonis. Dengan otak yang cerdas dan intelek yang laju berkembang, manusia ternyata cenderung menggunakan pengetahuan, sains, dan teknologi untuk kepentingannya, entah untuk dirinya sendiri, keluarganya, kelompoknya, partainya, umatnya, atau golongannya.
Sains dan spiritualitas bukanlah dua ekstrem atau dua kubu yang terpisah. Pertemuan seorang ilmuwan, ahli bedah syaraf Dr.Bambang Setiawan (almarhum) dengan seorang spiritualis, Anand Krishna, menunjukkan bahwa sains dan spiritualitas saling melengkapi. Evolusi spiritual semestinya mendapat perhatian kita sebagaimana halnya kita menaruh perhatian pada kecerdasan otak. Jika hal ini terjadi, dengan sendirinya kecerdasan otak dan kecemerlangan daya piker akan menjadi berkah dan menunjang keselarasan alam, kedamaian, serta keharmonisan antarmanusia dan sesame mahluk hidup.
***
Tulisan di atas adalah kutipan dari sampul buku: “ Neospirituality & Meuroscience – Puncak Evolusi Kemanusiaan”, ditulis oleh Anand Krishna dan Dr.Bambang Setiawan. Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama – (2010)
April 14th, 2009 by admin
Judul Buku:
Sehat Dalam Sekejap
***
[...] Anda bisa lari dari keadaan, tapi tidak bias lari dari pikiran [...]
Pada awal bulan Maret 1999, The National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) bekerja sama dengan American Psychological Association mengadakan konfrensi di Baltimore, Amerika Serikat. Yang mereka bicarakan adalah masalah stress ini. Tidak heran, karena hasil riset mereka sebelumnya menunjukkan bahwa 25% pekerja di Amerika Serikat mengalami stress “parah” di tempat kerja, sampai membutuhkan bantuan medis dan psikologis.
Ironisnya ilmu medis hanya bisa menangani gejala penyakit yang disebabkan oleh stress, depresi dan lain sebagainya. Lalu, sebagaimana dikatakan oleh seorang teman dokter di Ashram, Dr Setiawan: “obat-obat anti depresi dan anti stres yang biasanya diberikan hanya mengurangi atau menghilangkan gejala-gejala penyakit. Bahkan seorang penderita bisa mengalami ketergantungan obat dengan segala akibatnya. Mau sampai kapan?
Ilmu psikologi menawarkan pengetahuan tentang stress, tentang depresi, tetapi solusi yang ditawarkan juga belum pas, karena ilmu psikologi masih bekerja pada tingkat alam bawah sadar. Yang diarah memang sudah betul, karena kekacauan terjadi di situ, tetapi untuk mengatasinya, harus ada lembaga lebih tinggi dari alam bawah sadar. Seperti huru-hara di jalan raya, yang mengatasinya harus aparat keamanan. Para pelaku huru-hara sendiri tidak bias diharapkan untuk mengatasinya. Dalam hal ini, aparat keamanan itu sebuah perumpamaan untuk menunjukkan kesadaran murni. Prosesnya dimulai dengan melampaui alam bawah sadar atau subconscious mind.
Psikiatri juga tidak banyak membantu. Lagi-lagi, yang bisa mereka berikan hanyalah obat penenang, ditambah dengan latihan rileksasi – yang bisa mengalihkan kesadaran sang penderita dari penderitaannya. Tetapi ya sekedar itu saja – pengalihan perhatian untuk sesaat.
Seorang penderita stress atau depresi membutuhkan penanganan yang bersifat “holistc“. Istilah holistic ini mempunyai akar pada suku kata “whole” – keseluruhan. Nah, setidaknya ada lima aspek utama kepribadian manusia yang harus ditangani. [...]
Tubuh kita memiliki mekanisme alamiah yang luar biasa, yang kalau tidak kita kacaukan, akan menciptakan sendiri pertahanannya terhadap berbagai gangguan dan penyakit. Tetapi, mekanisme alamiah itu sudah banyak terganggu oleh pola makan, cara pandang, dan pembiasaan secara mental maupun emosional, serta pola hidup kita.
Meditasi Dinamis Ananda (MeDinA) akan memberdayakan diri Anda, untuk meraih kembali kesehatan fisik, mental dan emosional Anda. Dengan latihan-latihan praktis yang dipaparkan dengan ilustrasi jelas, Anda akan mampu mengatasi gangguan mental seperti amarah dan kesal, duka dan murung, cemas dan gelisah, sampai yang berat-berat seperti, trauma, stress dan depresi, bahkan keinginan untuk bunuh diri.
Melalui meditasi itu, Anda juga dapat mengatasi insomnia dan migraine, serta berbagai bentuk ketergantungan dan kecanduan. Dan untuk kesehatan fisik secara keseluruhan, disajikan terapi yang amat murah dan luar biasa manfaatnya maupun efektifitasnya: Terapi Air.
***
Tulisan di atas adalah kutipan-kutipan dari, buku “Sehat Dalam Sekejap“. Cetakan Ketiga: Februri 2001. Ditulis oleh Anand Krishna. Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama. (Cetakan pertama: April 2000)
April 13th, 2009 by admin
Judul Buku:
***
[...] The Latin root of the word meditation is similar to the root for medical or medicate and implies the sense of “attending to” or “paying attention to” something.
In meditation, you pay attention to your own deepest, innermost levels-dimensiaon of yourself which are seldom known.
The English word meditation is based on the Latin root “med” which is, “to measure.” The present meaning of the word is “to reflect,” “to ponder” (i.e.to weigh or measure), and “to give close attention.” The Latin root of the word meditation, mederi, means “to heal. “The word meditation comes from the same Latin root as the word medicine, MedEri, meaning “to remedy”.
Inilah hasilnya bila kita membuka Leksikon atau kamus tentang Origin of Words, asal-usul terbentuknya satu kata. Medication atau Medis dan Meditation atau Meditasi berasal dari satu suku kata yang sama dalam bahasa Latin:
“Akar kata bagi Meitasi dalam bahasa Latin mirip dengan akar kata bagi Medis, maksudnya ‘menjaga’,'merawat’ atau ‘memperhatikan’ sesuatu.
“Dalam Meditasi, kita memperhatikan lapisan-lapisan kesadaran atau dimensi-dimensi terdalam dalam diri kita sendiri, yang biasanya luput dari perhatian.
“Meditation dalam bahasa Inggris berasal dari suku kata ‘med’ dalam bahasa Latin, yang mana berart’mengukur’. Dalam keseharian kita sekarang, kata ini juga dapat diterjemahkan sebagai ‘menilai’, ‘menghayati’, ‘meniti’ atau ‘memperhatikan secara mendalam’.
“Akar kata bagi ‘meditasi’ dalam bahasa Latin yakni ‘mederi’, berarti ‘menyembuhkan’. (Kesimpulannya) kata ‘meditasi’ dan ‘medis’ dalam bahasa Latin berasal dari suku kata yang sama – MedEri, berarti menyembuhkan’.”
Bila disimpulkan lebih lanjut, [...]
Di tahun-tahun mendatang, bukan Cuma obat-obatan yang akan diimport. Dokter-dokter asing pun akan “dipasarkan” di sini.
Ketidaktahuan tentang diri sendiri adalah sebab utama makin mahalnya kesehatan. Padahal, penelitian-penelitian ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa penyebab kita sakit – sekaligus penyembuhnya – tak lain adalah kita sendiri.
Inilah cara pandang ilmu kesehatan holistic yang sudah berusia ribuan tahun. Dokter hanyalah seorang ‘fasilitator”, obat-obatan Cuma pelengkap. Yang terpenting, kita sndiri harus berperan.
Kita semua berhak atas kesehatan yang murah. Sekaranglah saatnya. Yang diperlukan Cuma perubahan persepsi.
***
Tulisan di atas adalah kutipan-kutipan dari, buku “MedEri – Medis Meditasi“. Cetakan I: Juni 2005. Ditulis oleh Anand Krishna bersama Teman-Teman. Diterbitkan oleh: PT One Earth Media.